Forum Indofanster

Selamat datang di Forum Indofanster.
Silakan mendaftar dan login untuk bergabung mendiskusikan berbagai Manga-Anime.

Welcome to FAN

Jangan sungkan untuk bergabung ya...


Forum Indofanster

Forum Tempat Berdiskusi Tentang Manga - Anime
Dibuat oleh Agoess Sennin pada 16 Mei 2009
Indofanster adalah Keluarga, Bukan Sekedar Tempat Berkumpul
 
IndeksPortalCalendarGalleryFAQPencarianAnggotaGroupAffiliatePendaftaranLogin
Welcome to
Rules • Staff • Ranks & Holder

Share | 
 

Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2
PengirimMessage


Posting : 121
Join date : 23.05.12
Age : 17
Lokasi : KonohaGakure

#26PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 26/5/2012, 1:32 pm

Ceritanya Sedih banget :crynaruto: , Aku hampir nangis pas lagi baca :crynaruto:



Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Greek Senju
Shinobi Gatana - Kiba
Shinobi Gatana - Kiba
avatar


Posting : 340
Join date : 02.05.12
Age : 17
Lokasi : kirigakure

#27PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 29/5/2012, 2:00 pm

Wah, ada lagi nih. Tapi aku masih terharu sama yang pertama. Kebawa perasaan gitu walaupun umurku masih kecil. Tapi udah bisa merasakan sakitnya.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://caritahusesuatu777.blogspot.com
Karasu No Zhukey
Guru Akademi Suna
Guru Akademi Suna
avatar


Posting : 190
Join date : 08.02.12
Age : 18
Lokasi : New World

#28PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 29/5/2012, 3:20 pm

yah..
memang lebih menharukan Pudarnya pesona cleopatra.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Alfara Queenza
Jounin Senior
Jounin Senior
avatar


Posting : 184
Join date : 15.05.12
Lokasi : Konohagakure

#29PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 17/6/2012, 8:23 pm

aku ikutan ya!!! tapi ne juga just copas dari orang.... semoga bermanfaat.

Ada seorang petani miskin memiliki seekor kuda putih yang sangat cantik & gagah.

Suatu hari, seorang saudagar kaya ingin membeli kuda itu & menawarkan harga yang sangat tinggi.

Sayang si petani miskin itu tidak menjualnya. Teman-temannya menyayangkan & mengejek dia karena tidak menjual kudanya itu.

Keesokan harinya, kuda itu hilang dari kandangnya. Maka teman-temannya berkata : "Sungguh !!!*kata ini disensor oleh Admin*!!! nasibmu, padahal kalau kemarin di jual kamu kaya, skrg kudamu sudah hilang."


Si petani miskin hanya diam saja.

Beberapa hari kemudian, kuda si petani kembali bersama 5 ekor kuda lainnya. Lalu teman-temannya berkata : "Wah beruntung sekali nasibmu, ternyata kudamu membawa keberuntungan".

Si petani hanya diam saja.

Beberapa hari kemudian, anak si petani yg sedang melatih kuda-kuda baru mereka terjatuh dan kakinya patah.

Teman-teman petani berkata : "Rupanya kuda-kuda itu membawa sial, lihat sekarang anakmu kakinya patah".

Si petani tetap diam tanpa komentar.

Seminggu kemudian terjadi peperangan diwilayah itu, semua anak muda di desa dipaksa untuk berperang, kecuali si anak petani karena tidak bisa berjalan.

Teman-temannya mendatangi si petani sambil menangis : "Beruntung sekali nasibmu karena anakmu tidak ikut berperang, kami harus kehilangan anak-anak kami.

Si petani kemudian berkomentar : "Janganlah terlalu cepat membuat kesimpulan dengan mengatakan nasib baik atau !!!*kata ini disensor oleh Admin*!!!, semuanya adalah suatu rangkaian proses".

"Syukuri & terima keadaan yang terjadi saat ini, apa yang kelihatan baik hari ini belum tentu baik untuk hari esok. Apa yang buruk hari ini belum tentu buruk untuk hari esok".

Tetapi yang PASTI : Tuhan paling tahu yang terbaik buat kita..

Bagian kita adalah :

"Mengucap syukurlah dalam segala hal"...

Sumber: Anonymous

Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
ninjaring
Akatsuki Cincin Rei
Akatsuki Cincin Rei
avatar


Posting : 792
Join date : 16.11.11
Age : 26
Lokasi : magelang

#30PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 5/9/2012, 7:21 am

RENUNGAN IDA ARIMURTI

Assalamualaikum Wr Wb.

Sebelum aku memulai cerita aku ini, izinkanlah aku untuk memohon maaf
apabila ada pihak2 yang tidak berkenan dengan cerita aku ini,
terutama
keluargaku. Untuk itu nama2 orang dan tempat tidak akan aku sebutkan.
Aku ucapkan terimakasih untuk Retno (bukan nama sebenarnya) dari
Univ. T. di kotaku yg mau menuliskan kisah sejati aku ini. Semoga
kisah sejati aku ini menjadi inspirasi buat orang yg membacanya atau
mengalami hal yg sama.

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan Hidayah pada kita
semua.

Aku, panggil saja "Mawar", beurusia 30an thn dilahirkan di sebuah
pulau
di sebrang pulau jawa, di kota P. Aku lahir sebagai anak terakhir
dari 4
besaudara. Kakakku yg pertama dan kedua, laki2, sedangkan yg ketiga
perempuan. Kami berasal dari keluarga keturunan dan kami merupakan
generasi ke 4 yg sudah menetap di negri ini. Kakek buyut kami
merupakan
pendatang dari negri jauh dr sebrang di awal abad 20. Keluarga kami
memulai bisnis benar2 dari bawah, menurut cerita orang tua kami, dulu
kakek buyut kami hanya berjualan dengan pikulan bahan2 kebutuhan
pokok
seperti gula, garam, beras dll keluar masuk kampong. Usahanya baru
berkembang dengan pesat setelah pada tahun2 awal setelah kemerdekaan,
pemerintah pada waktu itu mulai menggalakan usaha yg dilakukan oleh
bangsa sendiri/pribumi.

Waktu itu dikenal istilah Ali Baba. Ali untuk pangggilan pribumi,
sedangkan Baba untuk warga keturunan seperti kami. Waktu itu
pengusaha pribumi asli diberikan kemudahan perizinan usaha, bahkan
mengimport dari negara2 lain, tapi umumnya mereka tidak punya banyak
modal. Waktu itu banyak warga keturunan yg mempunyai banyak modal
kemudian membeli ijin usaha yg diperoleh olah para bribumi tsb,
sehingga mereka secara mudah melakukan export import dengan negri2
tetangga (singapura, Malaysia, hongkong, dll) yg pada waktu itu
memang juga dikuasai olah warga dari etnis kami.

Singkat cerita, bisnis keluarga kami benar2 menjadi semakin besar dan
merambah ke segala bidang, mulai dari pertambangan, tambang emas,
property, perkebunan, dll. Boleh dibilang kekayaan keluarga kami
sudah diatas rata2 dari orang kaya di negri ini, above than ordinary
rich.

Harta kekayan kami yg amat melimpah itu sampai orang tua kami kadang
kala risau seandainya tiba2 kami sekeluarga (tiba2) meninggal
sehingga tak ada yg mengurus harta yg sedemikian banyaknya itu.
Untuk itu kami sekeluarga tak pernah melakukan perjalanan dengan
pesawat secara bersama2.
Andai kami sekeluarga akan melakukan liburan pada saat dan tempat yg
sama, maka biasanya kami dibagi menjadi 2 atau 3 penerbangan, Papa
dan mama satu pesawat, dan kami sisanya juga dibagi 2 penerbangan yg
lain. Sehingga apabila terjadi sesuatu musibah, maka akan tetap ada
bagian keluarga kami yg masih selamat, dan tetap bisa mengurus
bisnis dan kekayaan kami. Aku sengaja cerita panjang lebar latar
belakang keluarga kami, sebab ini akan berhubungan sekali secara
emosi dengan kisah aku selanjutnya.

Papa kami lahir dan dibesarkan di pulau ini, selepas sekolah menengah
atas beliau melanjutkan sekolah bisnis di negri H, sehingga begitu
kembali ke negri ini, beliau manjadi businessman yg amat handal, dan
mempunyai banyak teman2 bisnis di berbagai negara. Papa sebenarnya
orang yg rendah hati, pendiam, bicaranya terukur dan seperlunya,
jarang marah pada anak2nya.
Sedangkan mama, sebenarnya berasal dari pulau lain, dia dulu pernah
bekerja pada perusahaan kakek kami (orang tua dari papa), sebelum
akhirnya bertemu papa dan menikah. Mama orangnya keras, pintar,
lincah, banyak pergaulan, sehingga kadang kami berpikir, papa
seperti takluk pada mama.
Banyak kebijakan perusahaan yg berasal dari ide mama, dan memang
selalu sukses. Papa dan mama, memang pasangan yg serasi, saling
mengisi kekurangan. Masa kecil aku lalui dengan penuh kebahagian,
dan sejak SD sampai SMA aku disekolahkan disebuah sekolah swasta
terkemuka di kota kami, yg siswanya banyak berasal dari anak2
pejabat, bupati, gubernur, dll. Aku berbaur dengan siapapun tanpa
memandang golongan, agama dan ras.
Kadang aku diundang untuk mampir bermain kerumah mereka (anak bupati,
gubernur) sepulang sekolah, sehingga aku mengenal labih dekat dengan
keluarga mereka. Ini pula yg kelak bermanfaat buat perusahaan
keluarga aku.

Di sekolah kami, ada pelajaran agama untuk tiap2 pemeluknya. Pada
saat itu tiap ada jadwal pelajaran agama tertentu, maka bagi pemeluk
agama yg lain diperbolehkan keluar kelas, tapi boleh juga tetap
tinggal dikelas apabila memang menghendaki. Jadi misalnya hari ini
giliran pelajaran agama Islam, maka murid2 non muslim diperbolehkan
meninggalkan kelas, begitupula sebaliknya apabila ada pelajaran
agama lain. Tapi aku sendiri sering tetap tinggal dikelas
mendengarkan apa yg diajarkan ibu guru agama Islam di kelas kami.

Saudara2 ku semua....

Entah kenapa aku yg sejak lahir dididik secara non muslim, bahkan
tiap minggu aku beribadah di tempat ibadah kami, merasa tertarik
dengan ajaran agama Islam. Aku sendiri tak tahu datangnya dari mana.
Semacam ada panggilan dari hati aku yg paling dalam, tapi saat itu
aku pikir mungkin itu hanya rasa keingintahuan semata, bukan
mendalami secara jauh dan mendalam. Tiap mendengar azan, entah
kenapa hati aku selalu bergetar.
Dirumah kami yg besar, kadang hanya aku seorang diri, orang tua kami
selalu sibuk di Jakarta sehingga hanya beberapa hari dirumah dalam
sebulan, kakak2 aku ada yg sudah kuliah di luar negri, sehingga rumah
mempunyai 6 kamar yg besar2, yg seharusnya cukup untuk menampung 20
orang, hanya dihuni oleh aku sendiri. Pembantu, sopir, satpam,
tinggal di pavilion khusus untuk mereka yg terletak terpisah dengan
rumah induk. Dalam kesunyian itu hati aku merasa sejuk tiap
mendengar ayat suci Al Quran yg kadang tak sengaja aku dengarkan di
TV.

Kembali ke pelajaran agama di kelas. Entah mengapa aku makin tertarik
untuk mendalami ajaran agama Islam tiap ada pelajaran agama dikelas.
Melihat ibu guru yg mengenakan kerudung, dengan wajah yg bersih,
bersinar, hati aku terasa sejuk. Dengan melihat wajah ibu guru itu
saja aku sudah merasa damai. Tanpa aku sadari kadang aku mencatat
apa yg ibu guru itu ajarkan, bahkan aku mulai hapal diluar kepala
ayat2 yg pendek2. Itu semua benar2 terjadi begitu saja, tanpa ada
aku sadari dan tanpa bisa dicegah oleh diri aku sendiri. Pernah ibu
guru tsb menghampiri aku yg tak sengaja, secara reflex mencatat
pelajaran tetang haji yg dia tulis di papan tulis. Beliau tahu aku
non muslim, dan menghampiri tempat duduk ku, jantung ku
berdebar keras membayangkan kemungkinan aku diusir dari kelas.

Tetapi.....ternyata beliau dengan senyumnya ramah melihat catatan yg
aku tulis, sambil berkata, "Insya Allah kelak suatu saat Mawar
bersama dengan ibu melaksanakan ibadah Haji ya.."

Sejak saat itu hubunganku dengan Ibu guru (sebut saja ibu guru
Aisyah) makin akrab, aku hampir tidak sabar menunggu datangnya hari
pelajaran ibu Aisyah. Hubunganku dengan beliau bagai anak dan ibu.
Tetapi saat itu aku juga tetap mengikuti pelajaran agama yg saat itu
masih aku anut, walau lebih banyak melamun, bahkan tidak mencatat
sama sekali apa yg diajarkan.

Sebagai gadis remaja, tinggiku sekitar 160cm, tentu sedang mekar2nya
dan giat2nya mancari pacar. Teman2ku banyak yg mengatakan kalau
tubuhku indah, proporsional, berwajah oriental, bakalan banyak
menarik perhatian laki2. Plus dengan latar belakang keluarga ku yg
amat berkecukupan, makin banyak laki2 yg tergila2 padaku. Entah
kenapa saat itu aku tidak tertarik dengan laki2 yg berasal dari
etnis ku. Tiap hari jumat melihat siswa2 pria
melakukan ibadah shalat jumat, hatiku langsung bergetar, membayangkan
andai salah seorang dari mereka adalah pacarku, dengan wajah bersih
bersinar dan masih basah tetesan air wudhu, berjalan ke masjid di
seberang sekolah, ah...alangkan indahnya membayangkan wajah2 ersebut.
Tapi saat itu aku tahu diri, aku yg berasal dari etnis keturunan,
apakah ada laki2 pribumi yg mau menjadikan aku pacarnya. Aku tahu
masih banyak dari mereka yg membedakan ras, dan berpacaran dengan
ras kami masih dianggap memalukan, bahkan bisa jadi ejekan dan
gunjingan dilingkungan keluarganya.
Aku pernah berpacaran dengan anak bupati dikota ku, tapi kemudian dia
memutuskan hubungan kami, dikarenakan ayahnya akan mencalonkan diri
menjadi Gubernur, dan dia tidak mau ada anggota keluarganya yg bisa
menghambat pencalonan tsb. Misalnya anaknya dengan berpacaran dengan
ras lain (??). Walau alasan itu amat sangat mengada2 tapi aku terima
dengan lapang dada. Memang aku sudah menyadari akan ada penolakan,
karena aku berasal dari etnis non pribumi. Aku tahu orang tuanya
tentu tak merestui anaknya berhubungan terlalu jauh dgn orang yg
bukan dari ras mereka, dan berlainan agama.

Walau begitu hatiku sudah bulat untuk kelak memiliki pasangan hidup
seorang pribumi, dan aku bahkan bersedia memeluk Islam sebagai agama
ku. Kelak keputusan hidupku ini akan menjadi perjalanan panjang dan
penuh cobaan dalam hidupku.

Selepas SMA aku melanjutkan study ke Ausie lalu ke negri Paman Sam,
mengikuti kakak2 ku yg sudah berada disana. Tak banyak yg perlu aku
ceritakan dgn masa2 studiku disana. Hampir 5 tahun kemudian aku
kembali ke tanah air, dengan gelar master di tangan dan aku mengabdi
ke perusahaan keluargaku untuk membesarkan bisnis mereka. Dalam
waktu singkat perusahaan kami memperoleh profit yg amat meningkat,
dan terus membesar, serta mulai merambah ke banyak sektor bisnis.
Aku banyak memiliki akses ke para petinggi di daerahku karena semasa
sekolahku dulu aku sudah mengenal beberapa keluarga mereka. Semua
urusan perijinan yg menyangkut perusahaanku, bisa aku selesaikan
dengan mudah. Aku masih tetap melajang di pertengahan usia 20an
tahun. Banyak pria2 yg berusaha menarik perhatianku, dari pengusaha2
muda yg sukses bahkan sampai pemilik perusahaan2 besar. Tapi hatiku
tak bergetar sama sekali. Aku belum menemukan seseorang yg benar2
menjadi soulmate ku. Sekedar mencari suami amatlah mudah
bagiku, ibarat hanya menjentikan jari maka puluhan pria akan
mendatangi ku. Tapi aku benar2 mencari seorang soulmate, belahan
jiwa sejati untuk mendampingi ku.

Sampai suatu ketika perusahaan kami memperoleh karyawan baru dari
kantor cabang kami di pulau Jawa. Orangnya 3 tahun lebih tua dari ku,
wajahnya bersih, dia berasal dari etnis pribumi Jawa. Tutur katanya
lemah lembut, sopan, tubuhnya tinggi, proporsional, dan ah...ini
dia..dia seorang muslim yg shaleh. Sejak kedatangan dia dikantor
kami, para wanita gak habis2nya membicarakan tentang dia, dan
berlomba bisa mendapatkan dia. Menurut laporan kantor kami, dia amat
rajin, jujur dan berprestasi di kantor yg lama, sehingga dia
dipromosikan pekerjaan yg lebih tinggi dan menantang di kantor kami
ini. Kebetulan kerjaan yg akan dia kerjaan akan menjadi satu divisi
dengan ku. Sehingga aku akan banyak berhubungan dengan dia.

Mula2 di bulan2 pertama aku masih bersikap 'Jaim' jaga image, karena
aku ini anak dari pemilik perusahaan ini. Tapi lama2, hatiku gak bisa
berbohong,.. hatiku sedikit tapi pasti, luluh juga... aku mulai jatuh
cinta. Pernah suatu ketika sehabis mengunjungi kantor gubernur aku
satu mobil dengan dia. Ditengah jalan dia minta ijin padaku untuk
berhenti sebentar di masjid raya di kota ku untuk shalat ashar. Dari
dalam mobil, aku perhatikan gimana dia berwudhu, lalu melangkah
masuk ke masjid dan melakukan ibadah....ahhh. .andai aku kelak bisa
mengikuti di belakang..

Awal2nya aku memanggil dia dengan sebutan formal dikantor 'Pak' dan
dia juga memanggilku 'Ibu'..tapi lama2 kelamaan secara tak sengaja
aku mulai memanggil dia 'mas', karena aku sering lihat keluarga jawa
memanggil orang yg lebih tua, suami, kakak, dengan sebutan mas.
Mulanya dia agak rikuh tiap aku panggil demikian, tapi lama kelamaan
mulai terbiasa,. Tapi itu hanya aku lakukan apabila hanya sedang
berdua dengan dia, tidak didepan
orang2 kantor. Akupun mulai meminta dia memanggilku 'Dik', aku merasa
risih tiap kali dia panggil aku 'Ibu Mawar'.

Seiring dengan waktu, sesuai pepatah jawa, "witing tresno jalaran
soko kulino", cinta akan tumbuh karena terbiasa selalu bersama2.

Saudara2ku.. .

Bisa dibayangkan gimana awal kisah cinta kami...didalam mobil yg
disupiri sopirku, kami sama2 duduk dibelakang. Awalnya kami hanya
membicarakan
dan membahas berkas2 pekerjaan, kadang secara tak sengaja tangan kami
saling sentuhan. Dan dia secara sopan segera menarik, dan minta
maaf..Ah..sebel rasanya..padahal akulah yg menginginkannya. Tapi itu
tak
berlangsung
lama, pada akhirnya dia takluk juga, kadang aku biarkan tangan dia
memegang
berkas, lalu aku pura2 membahasnya sambil tanganku menyentuh jari dan
tangannya.

Kadang aku genggam jarinya,..dan lama kelamaan dia memberikan
response..dia juga menggenggam tanganku...ahh. .

Kadang kalau mobil kami sudah mau sampai tujuan, aku pura2 minta
supirku untuk kembali ketempat lain, aku pura2 ada yg tertinggal..
padahal
aku
hanya ingin berlama2 dengan dia (sebut saja mas Fariz) di mobil.

Pernah suatu ketika aku pura2 ada yg tertinggal dan suruh sopirku
membawa kami berdua ke rumah ku. Begitu mobil kami memasuki halaman
rumahku yg
besar, wajahnya tampak pucat pasi. Dia tampak ketakutan dan gugup.
Dia
bilang nanti kalau papaku (alias big boss dia) akan marah kalau
melihat
dia jam kerja begini malah mampir kerumah dia. Aku bilang tak perlu
takut, bukankah aku, anaknya big boss, yg membawa dia kesini.

Hampir setahun sudah dia bekerja bersama denganku, dan hubungan kami
sudah makin erat, tapi dia belum menyatakan cintanya padaku. Mungkin
dia
takut aku akan menolaknya, apalagi keyakinan kami pada saat itu masih
berlainan. Hingga suatu ketika dia menelponku, dan mengajak bertemu
disuatu
restoran di luar kota, dia memintaku datang tanpa sopir. Dia tidak
mau ada
orang
kantor yg melihat kami berdua. Di restoran itu dia menyatakan
cintanya
padaku...langsung saat itu juga aku terima. Dan aku katakan pada dia,
kalau aku merasa mas Fariz adalah soulmate ku. Aku akan bersedia
memeluk Islam mengikuti agama yg dia anut. Aku juga katakan kalau
memang
aku
sudah sejak lama tertarik dengan agama Islam, jadi mas Fariz semoga
bisa
menjadi pembimbingku. Aku bisa melihat air mata dia meleleh dari
kedua
matanya.
Seumur hidupku baru kali ini aku melihat seorang laki2 berlinangan
air
mata karena aku, tak terasa akupun tak kuasa menahan airmataku
meleleh
dipipiku. Aku yakin aku sudah mendapatkan 'Soulmate' ku dan akan aku
pertahankan sampai kapanpun dan dengan cara apapun.

Di kantor kami tetap bekerja seperti biasa, seperti tak ada hubungan
suatu apapun. Tetapi diluar kantor kami benar2 sepasang kekasih yg
lagi
jatuh
cinta, dia mulai mengajariku shalat, dan sedikit2 bacaan doa. Dia
memang benar2 lelaki yg taat, dia menjaga kesopananku, tak pernah
melebihi
batas, walau kadang aku yg menggoda, tapi dia selalu bilang,
sabar..tunggu
tanggal mainnya. Tapi serapat apapun kami tutupi hubungan kami,
akhirnya sedikit demi sedikit bocor juga oleh orang2 kantor kami.
Sampai
akhirnya terdengar di telinga papaku.

Suatu hari tiba2 papaku datang ke ruanganku, padahal papaku amat
sangat
jarang datang ke ruang kerja ku, kalau ada keperluan biasanya aku yg
dipanggil menghadap. Aku lalu diajak bicara berdua dengan beliau.
Mula2
papa tidak menanyakan hubungan ku dengan Fariz, tapi sedikit demi
sedikit dia mulai mengarahkan pembicaraan ke arah sana. Sampai
akhirnya dia
menanyakan kebenaran hubungan ku dengan Mas Fariz. Aku tak sanggup
menjawab, wajahku tertunduk. Papaku terus menatapku, menunggu
jawabanku.
Aku tak sanggup berbohong, kalau aku bilang tidak, itu bertolak
belakang dengan hati ku, sebaliknya kalau aku bilang iya, aku
khawatir
kerjaan
Mas Fariz akan manjadi taruhannya. Akhirnya aku hanya bisa
menangis....

Keesokan harinya, Mas Fariz tidak hadir lagi dikantor, menurut orang2
kantor, dia dipindahkan kembali ke pulau Jawa mulai hari ini, dan aku
mulai kehilangan kontak dengan dia.

Seminggu kemudian dia menelpon ku, dia cerita panjang lebar, bahwa
pada
hari itu, setelah papa menemui ku, ternyata papa langsung menemui
dia,
dan keesokan paginya dia sudah harus kembali ke kantor yg lama. Dia
juga
cerita kalau keadaan makin parah, karena nyaris tiap karyawan
dikantornya sudah mendengar kabar hubungan dia dengan aku. Dan
banyak yang
menggunjingkan kalau mas Fariz, mengincar harta dan kedudukan, karena
berpacaran dengan anak pemilik perusahaan. Dia sampai berulang kali
menyebut nama Allah, dan bersumpah kalau dia mencintaiku bukan karena
itu semua.

Dua minggu kemudian, dia memutuskan mengundurkan diri dari perusaan
kami, tapi kami tetap saling berhubungan melalui telp. Dia berjanji
mencoba
mancari pekerjaan di perusahaan lain yg punya cabang di kotaku,
sehingga bisa bekerja dikotaku dan kembali menemui ku. Tuhan memang
sudah
berencana, akhirnya 3 bulan kemudian mas Fariz sudah mendapat
pekerjaan
dan di tempatkan kembali di kotaku walau dengan gaji yang jauh lebih
kecil. Dia bilang sekarang sudah bebas berhubungan dengan ku, dia
tidak
ada ikatan apa2 dengan perusahaan ku. Tak ada yg bisa melarang. Aku
amat terharu, dia korbankan karir pekerjaannya karena aku. Aku
berjanji
apapun yg terjadi aku tak akan tinggalkan dia.

Sekarang kami! bebas behubungan tak perduli lagi dengan omongan
orang2
kantor, karena dia toh tak lagi bekerja di perusahaan kami ini. Tapi
ternyata papa kembali mengetahui ini, dan kali ini malahan mama ikut
turun tangan. Aku diceramahi habis2an..

Mereka sebenarnya tidak membeda2kan ras, mereka tidak keberatan aku
berhubungan dgn siapapun, tapi mereka mulai curiga kalau aku mulai
akan
pindah keyakinan. Dan itu mereka kurang bisa menerima. Aku sudah
jelaskan baik2 bahwa aku sudah cukup dewasa dan bisa mengambil
keputusan
buat
hidupku sendiri tanpa tergantung papa dan mama. Ternyata jawabanku yg
demikian itu membuat mereka tambah murka dan tersinggung. Mereka
katakan bahwa tanpa mereka jalan hidupku tidak akan seperti ini.
Banyak
orang
yg akan rela mati demi merasakan hidup seperti ku. Rumah mewah, sopir
tersedia tiap saat, mobil mewah ada di garasi, uang melimpah,
dihormati
kemana aja pergi, dll. Mereka juga katakan, tanpa mereka aku tak akan
pernah sanggup memperoleh kehidupan spt ini. Aku hanya menangis
mendengar apa yg mama papa ku katakan. Tapi hatiku sudah bulat
apapun yg
terjadi
aku tak akan tinggalkan Mas Fariz. Cinta pertamaku dan terakhir.

Walau orang tua ku terus menentang, cintaku ke mas Fariz tak pernah
surut. Akupun makin giat memperdalam agama Islam. Seringkali aku saat
istirahat kantor, aku pergi ke toko buku besar di Mal. Aku baca2 buku
tentang
Islam.
Pernah aku ajak orang kantor untuk ikut aku ke toko buku tsb. Dan dia
tegur aku, karena dia pikir aku salah memilih bagian rak buku. Dia
ingatkan aku kalau aku di bagian rak buku2 Islam. Aku bilang memang
benar, aku mau membaca buku2 tentang Islam.

Makin hari hubunganku dengan papa mama makin renggang. Padahal aku
sudah bicara sebaik mungkin dengan mereka. Kakak2ku semuanya juga
sudah
terprovokasi. Mereka mulai menjauhiku. Kedua kakak laki2 ku sudah
menikah dan menetap di Jakarta menjalankan perusaahan kami disana,
sehingga
papa dan mama sekarang lebih banyak menetap dikota kami.

Dirumah, perlakuan mereka makin hari makin berubah terhadap ku. Aku
makin dianggap bukan lagi bagian keluarga mereka. Tiap makan malam,
mereka
tak lagi mengajakku makan bersama2 di meja makan. Pembantu dirumah
baru
disuruh memanggilku untuk makan apabila papa mama dan kakak
perempuanku
sudah selasai makan, dan makanan yg ada dimeja makan, sisa mereka,
yg
aku makan. Pembantu tidak diperbolehkan menambah makanan. Bayangkan,
aku
memakan seadanya sisa dari mereka. Andai mereka makan ayam, maka aku
hanya tinggal kebagian ceker dan kepalanya saja. Bisa dibayangkan
bagaimana
sakit hatiku rasanya. Tapi aku tetap bersabar, dan mas Fariz selalu
mengingatkan aku untuk tetap berbakti pada orang tua. Padahal kalau
aku
mau, bisa saja aku pergi ke restoran yg paling mahal di kota ku ini.

Puncak dari semua itu terjadi pada suatu malam.

Kakak perempuanku memang sebenarnya kasihan kepadaku, sehingga kadang
dia menyimpan sebagaian makanan yg baru dimasak didapur. Sehingga
pada saat
mama papa selesai makan, dia diam2 menghidangkan untukku. Suatu
ketika
secara tak terduga, papa mama ku kembali ke meja makan, dan mereka
memergoki kakak ku yg membawa makanan yg dia simpan di dapur untukku.
Langsung mamaku merebut piring yg dibawa kakakku, dan melemparkannya
ke
lantai..Sambil menyindir, bahwa kakakku tak perlu kasihan pada ku,
karena aku sanggup hidup tanpa diberi makan dari mama papa dan bisa
hidup
mandiri tanpa mereka. Ohh....Mereka rupanya sudah amat
membenciku.. .Hancur
berkeping2 hatiku pada saat itu. Aku hanya bisa menangis, tapi aku
tak
menyesal, dan aku akan terus bertahan dengan pilihan hidupku.

Mas Fariz, menyarankan aku untuk bicara baik2 dengan mama dan papa,
mudah2an mereka akan luluh dan mengerti. Suatu malam, aku
berkesempatan
mendatangi dan berbicara dengan mereka, dan aku secara baik2 dan
sopan,
tak lupa meminta maaf apabila aku salah pada mereka. Aku jelaskan
baik2
pada mereka apa yg hatiku rasakan, aku tumpahkan semuanya. Tetapi
justru itu membuat mereka tambah murka, mereka juga malah menuduhku
telah
diguna2, dan menyarankanku supaya sadar. Oh Ya Allah...Aku sehat wal
afiat, Insya Allah saat itu tak ada satupun guna2 pada diriku. Semua
keinginanku adalah murni dari hatiku, panggilan jiwaku, yg tak bisa
lagi aku cegah. Aku jelaskan pada mama dan papa, bahwa aku sudah
cukup
umur,
dan bukan lagi gadis remaja lagi, sehingga apapun keputusanku, aku
bisa
pertanggungjawabkan . Aku bisa mandiri andai keputusan hidupku itu
memang menghendaki demikian. Papa dan mamaku tetap pada pendirian
mereka,
bahkan mereka menantangku, kalau sanggup hidup mandiri, sekarang juga
serahkan
seluruh harta ku yg aku punya selama ini, yg aku dapat selama hidup
dengan mereka.

Karena tekatku sudah bulat. Malam itu pula seluruh kartu credit, ATM,
buku2 bank, aku serahkan pada mereka. Uang yg aku punya benar2 hanya
tinggal yang ada di dompetku. Aku sepertinya tinggal menunggu waktu
saja untuk meninggalkan rumah ini. Keesokan paginya, karena ada suatu
keperluan
aku ingin membuka lemari besi tempat penyimpanan surat2 berharga di
rumah
kami. Tetapi berulang kali aku mencoba, aku tak bisa membukanya.
Ternyata nomor kombinasinya sudah diubah oleh mama pap! aku. Padahal
didalamnya
ada barang2 penting pribadiku, seperti Ijasah, perhiasan, dll. Aku
mencoba
menelpon papaku, menanyakan hal ini, dan lagi2 aku mandapatkan
jawaban
yg menyedihkan hatiku. Papaku menyindirku, kalau sanggup hidup
mandiri,
kenapa masih mau membuka lemari besi milik keluarga, pasti ada
barang2
yg mau dijual didalamnya. Aku benar2 sudah dikucilkan, dan mereka
benar2
mencoba menyiksaku dengan cara demikian, sehingga mereka pikir aku
akan
menyerah, dan akhirnya mengikuti apa yg mereka mau. Aku adukan semua
itu ke mas Fariz, dan aku katakan kalau aku akan meninggalkan rumah
orang
tua ku. Dia tak bisa berkata apa2. Hanya ingatkan aku jangan sampai
memutus
silaturahmi dengan orang tua.

Saudara2 ku..

Beberapa hari setelah kejadian itu, aku benar2 meninggalkan rumah.
Aku
akan tinggal kost didekat kantorku. Aku berpamitan baik2 pada mama
dan
papa ku. Tapi mereka menolehpun tidak. Aku masih punya cukup uang di
dompet. Aku bersumpah tak akan meminta uang lagi sepeserpun dari
mereka.
Aku bertekad membuktikan kata2 ku untuk hidup mandiri tanpa harta
siapapun demi mempertahankan keyakinan ku. Selama aku bekerja
diperusahaan
papaku, memang secara formal aku di gaji sesuai dengan posisi
kerjaku di
perusahaan.Tapi disamping itu tiap bulan, tentu diluar formal
perusahaan, aku mendapat uang saku dari papa ku yg lumayan banyak,
hampir
20x lipat
dari gaji resmiku. Sehingga penghasilan total sebulan bisa cukup
untuk
hidup mewah setahun. Bahkan seluruh uang simpananku di bank, sudah
mencapai 10 digit. Tentu bukan jumlah sedikit. Bahkan mungkin cukup
untuk biaya hidup seumur hidupku tanpa bekerja.

Aku berharap perusahaan papaku masih memberikan gajiku, dan itu aku
anggap memang uang hasil kerjaku, bukan pemberian. Tapi diakhir
bulan aku
tak
memperoleh sepeserpun. Aku sudah meminta agar bisa diberikan cash.
Ketika aku tanyakan ke bagian pembayaran gaji, ternyata mereka sudah
diperintahkan papaku untuk menahan gajiku. Ya Allah, mereka benar2
melakukan cara apapun agar aku benar2 menderita dan pada akhirnya
menyerah.

Saat itu juga aku langsung mengundurkan diri dari perusahaan papaku
itu.
Aku tinggalkan perusahaan itu selama2nya.

Ketika aku adukan hal ini pada mas Fariz dia amat sangat sedih dan
meminta maaf padaku, karena gara2 dia hidupku jadi menderita. Dia
rela
andai
aku tidak kuat dan merubah keputusan. Aku peluk dia, dan aku pastikan
keputusanku tak akan berubah, dan aku makin ingin bisa hidup bersama
dia. Saat itu hanya dialah sandaran hidupku. Dengan berlinangan air
mata,
dia sekali lagi menanyakan padaku, apakah aku menyesal dengan
keputusanku,
dan apakan aku rela bila menjadi muslimah dan m! enjadi istrinya.
Saat itu
juga aku cium tangannya, dan aku katakan, aku korbankan seluruh
kehidupanku
hanya untuk bisa hidup bersamanya, dan aku tak akan mudur ataupun
menyesalinya, apapun yg terjadi aku akan hadapi iklas lahir dan
batin.

Singkat cerita, dengan diantar mas Fariz aku mengucapkan 2 kalimah
syahadat di sebuah masjid dikota kami, disaksikan imam dan beberapa
jemaah masjid tsb. Akhirnya penantian panjangku tercapai sudah,
walau harus
mengorbankan kehidupanku. Tapi aku tak pernah menyesali. Mas Fariz
lalu
mengajakku segera menikah di kota kelahirannya, karena kebetulan
perusahaan tempat dia bekerja akan memindahkan dia ke pulau Jawa.

Sebelum menikah, kami berdua mendatangi rumah papa dan mama, kami
akan
mohon restu baik2 pada mereka. Tetapi bapak satpam yg berjaga dipintu
gerbang mengatakan kalau dia diperintahkan untuk tidak membuka pintu
apabila kami berdua datang. Sebenarnya bapak satpam tersebut bersedia
membuka pintu karena dia masih mengenalku. Tapi aku melarangnya,
karena
khawatir akan mencelakakan pekerjaan dia. Biarlah cukup aku saja yg
menderita, aku tak ingin orang lain ikut terkena akibatnya. Aku
tinggalkan secarik surat, yg isinya memohon doa restu dari mama papa,
bahwa aku
akan menikah dengan mas Fariz, juga aku katakan kalau aku sudah jadi
muslimah.
Aku bisa lihat mata bapak satpam itu berkaca2 sewaktu aku katakan aku
sudah jadi mualaf.

Awalnya keluarga mas Fariz menanyakan ketidakhadiran keluargaku di
pernikahan kami. Tapi setelelah mas Fariz ceritakan panjang lebar,
akhirnya keluarga mau memahami. Kami menikah secara sederhana di kota
tempat keluarga mas Fariz bermukim. Keluarganya amat sangat
menerimaku
dengan hangat, mereka sama sekali tidak mempermasalahkan ras
keturunanku. Malah ibu mertuaku amat sayang padaku.

Setelah menikah, aku dan mas Fariz menetap di pulau Jawa. Aku amat
sangat bahagia, bisa menjadi pendamping hidup dia. Aku merasakan dia
bukan
sekedar suami, tapi memang benar2 soulmate hidupku, yg aku cari2
sepanjang hidupku.

Aku hidup dirumah yg sederhana dan hari2ku aku lalui dengan penuh
kebahagiaan, dan aku tak mengeluh sedikitpun dengan yg mas Fariz
berikan untukku. Aku tak lagi bekerja, karena aku benar2 ingin
mengabdi
pada
suamiku, dan disamping itu semua ijasahku masih tersimpan di lemari
besi di rumah mama papa, aku tak bisa melamar pekerjaan dimanapun.
Aku juga
tak mau meminta surat keterangan bekerja di perusahaan papaku. Aku
ingin
buktikan bisa hidup mandiri dengan suamiku. Mas Fariz amat sangat
menyayangiku, tiap pagi sebelum berangkat ke kantor dia memeluku.
Tiap
hari aku bawakan dia 'lunch box' untuk makan siang karena aku tak mau
makanan yg masuk ke perutnya berasal dari masakan orang lain. Aku
benar2 posesif, ingin memiliki dan melayani dia secara total. Setiap
hari
aku
bangun sebelum dia bangun, dan aku baru tidur setelah dia benar2
tidur,
untuk memastikan dia sudah benar2 tak perlu aku layani lagi. Aku
siapkan celana, baju, kaus kaki dia tiap pagi sebelum berangkat
kerja.
Sehingga
dia tak perlu lagi memikirkan pakaian apa yg harus dia pakai tiap
pagi.
Bahkan aku potongkan kukunya bila sudah panjang Pokoknya dia benar2
aku
jadikan pangeran bagi diriku.

Tiap malam sebelum tidur, kami selalu mengobrol dan saling
mengajarkan
bahasa. Dia mengajariku bahasa jawa, sadangkan aku mengajari dia
bahasa
mandarin. Dia amat cepat belajar mandarin, dalam waktu singkat dia
sudah menguasai beberapa kata2 yg umum diucapkan, kadang dia
mengajak ku
bicara mandarin dirumah. Memang perusahaan tempat dia bekerja milik
keluarga
dari etnis keturuan seperti aku, dan banyak behubungan dengan warga
keturunan, sehingga bila mampu berbahasa mereka akan merupakan
keuntungan
tambahan.

Suatu ketika dia pulang membawa sepeda motor, dia katakan kalau
kantornya memberinya pinjaman cicilan motor. Memang hanya sepeda
motor,
tapi aku
sangat bahagia sekali dengan yg dia dapatkan. Berulangkali dia minta
maaf tidak bisa belikan aku mobil mewah seperti yg aku pernah aku
miliki
dulu.
Aku katakan pd dia motor yg sekarang kita miliki bagiku jauh lebih
mewah dari mobil yg dulu aku miliki. Karena motor ini bukan sekedar
dibeli
dengan uang, tapi juga cinta, yg tak akan ternilai berapapun
banyaknya
uang.

Kehidupan perkawian kami amat indah, kalau dirumah nyaris kami tak
bisa
berjauan. Karena tiap hari bagi kami adalah bulan madu, maka hanya
setahun kemudian lahirlah anak pertama (dan satu2nya) kami. Bayi
laki2 itu
kami
namai, sebut saja 'Faisal'. Mas Fariz yg membacakan Azan dan qomat,
ketika bayi kami lahir. Aku merasa lengkap sudah kebahagiaanku. Tiap
hari
aku
tambah bahagia bisa merasakan ada 2 orang "Fariz" didalam rumahku.
Saat
mas Fariz ke kantor, aku di temani Fariz kecil, bayiku. Oh alangkah
bahagianya. Aku mencintai 2 orang yg sama darah dagingnya.

Tiga tahun sudah anak kami hadir bersama kami. Mas Fariz terus
bercita2
ingin mendatangi orangtua ku, oma opa si Faisal. Dia benar2 ingin
memperkenalkan cucu mereka dan menyatukan aku dengan papa mama ku
lagi.
Dia berharap dengan kehadiran Faisal, akan meluluhkan hati orang
tuaku.
Tapi tiap kali aku menelpon papa mama ku masih bersikap seperti dulu,
bahkan waktu aku katakan bahwa mereka sudah mempunyai cucu dari ku,
mereka hanya menjawab, kalau mereka tidak merasa mempunyai keturunan
dari
ku..Ohh malangnya anakku. Aku amat sedih, teganya papa dan mama ku
berkata
spt
itu. Aku masih memaklumi apabila mereka membenciku, tapi jangan pada
anakku, cucu mereka, darah daging mereka sendiri.

Mas Fariz hanya menyuruhku bersabar, dia percaya kelak papa dan mama
akan menerima mereka. Tapi sebelum harapan mas Fariz terpenuhi,
musibah
mulai datang....

Suatu ketika, mas Fariz pulang kerumah lebih awal, dia cuma merasa
gak
enak badan seperti orang masuk angin. Aku menyuruhnya segera
istirahat
dan tidur, dan memberi obat penghilang sakit. Malam harinya,
tubuhnya mulai
panas dan menggigil. Keesokan paginya aku mengantar dia ke dokter,
waktu itu dokter hanya katakan kalau mas Fariz hanya demam biasa
sehingga
hanya diberi obat penurun panas, dan disuruh istirahat. Tapi
malamnya tubuh
nya tetap panas, dan menggigil, bahkan sampai mengigau. Aku sudah
ajak mas
Fariz untuk ke rumah sakit keesokan harinya. Tapi dia menolak, karena
dia bilang hanya demam biasa, dan tak apapa, beberapa hari pasti
sembuh.
Sampai hari ke empat kondisinya makin parah, akhirnya disampai tak
sadarkan diri, bahkan dari hidungnya kaluar darah. Dengan pertolongan
para tetangga, suamiku segera dibawa ke RS. Hasil pemeriksaan
daranhnya
menunjukan trombositnya hanya tinggal 26ribu. Padahal orang normal
harus diatas 150rb. Suamiku terkena demam berdarah, Dokter
menyalahkan aku
kenapa tidak segera dibawa ke RS lebih awal, karena serangan terberat
demam berdarah adalah pada hari 5. Kalau kondisi tubuh tidak kuat,
bisa
amat berbahaya. Besoknya, hari ke 5, memang benar2 makin parah
kondisi
suamiku, napasnya makin berat, trombositnya belum beranjak naik,
tubuhnya udah benar2 digerogoti penyakit itu, malam itu setengah
mengigau,
dia
memanggil namaku, lalu aku genggam tangannya dan aku dekati telingaku
ke mulutnya, aku bisa dengarkan dia mencoba mengucapkan sesuatu, dan
air
matanya meleleh. Dia coba ucapkan kata2 "Maafkan aku" lalu aku
tenangkan dia, kalau tak ada yg perlu dimaafkan. Aku iklas lahir
bathin
mendampingi dia. Setelah mendengar kata2ku, dia tampak tenang, lalu
dengan
satu
tarikan napas dia coba mengucapkan "Lailahailallah" lalu dia pergi
selama2nya meninggalkan aku. Dia pergi di pelukan ku. Aku ingat suatu
ketika dia pernah berucap, andai Tuhan mengijinkan, dia ingin
meninggal
terlebih dahulu dari aku, dan dalam pelukanku, sebab ia ingin aku
menjadi orang terakhir dalam hidupnya yg dia lihat. Aku sempat
memarahi
dia,
jangan bilang seperti itu. Tapi dia bilang serius, kalau dia gak akan
sanggup kalau aku yg meninggalkan dia terlebih dahulu. Ternyata Tuhan
benar2 mengabulkan permohonan dia. Orang yg aku jadikan sandaran
satu2nya dalam hidup ini telah pergi selama2nya. Tak terkirakan amat
sedih
dan
hancurnya hatiku. Andai aku tak ingat dengan si kecil Faisal, mungkin
aku sudah ingin segera mengusul mas Fariz dialam sana.

Mas Fariz benar2 orang yg jujur dan baik, waktu penguburan seluruh
rekan2 kerja, bahkan big boss tempat bekerja hadir. Waktu aku
tanyakan
apakah
ada hutang piutang mas Fariz yg harus aku selesaikan. Mereka katakan
tidak
ada sama sekali, bahkan kantornya memberikan santunan 4x gaji,
ditambah
uang duka dari rekan2nya. Aku juga ditawarkan bekerja di perusahaan
tsb.
Tapi untuk saat itu aku benar2 gak sanggup melakukan apapun. Aku
merasa
setengah dari nyawaku sudah hilang. Selama 3 bulan aku berduka, aku
tak
sanggup pergi dan melakukan apapun. Bahkan tiap tidur, aku masih
membayangkan mas Fariz disampingku. Akhirnya untuk semantara waktu
aku
tinggal dengan ibu mertuaku, supaya Faisal ada yg mengasuh. Rumah dan
motor aku jual, karena aku tak sanggup membayangkan kenangan bersama
mas Fariz tiap aku melihatnya. Hampir setengah tahun tinggal dengan
mertuaku, sampai
akhirnya aku putuskan kembali ke kota asalku. Sebenarnya ibu
mertuaku amat
baik
dan sayang padaku. Tapi aku tahu diri gak mungkin selamanya
bergantung pada
siapapun. Aku harus bisa mandiri, membesarkan anakku, satu2nya
hartaku
yg tersisa.

Aku pulang ke kota asalku dengan sisa uang yg aku punya. Lalu aku
mengontrak rumah, dan membuka toko kecil2an di depannya. Tetapi
mungkin
karena aku masih terus berduka dan terbayang suamiku, sehingga aku
kadang kurang memikirkan usahaku ini, sampai akhirnya usahaku ini
bangkrut.
Tokokupun aku tutup, uangku habis untuk membayar tagihan2 para
suplier
barang, semantara penjualanku tak seberapa menguntungkan.

Aku sebenarnya tidak pernah putus asa, apapun aku jalani asal halal.
Pernah aku coba jadi pelayan restoran, tapi hanya beberapa bulan,
karena anakku tak ada yg jaga. Sampai akhirnya aku benar2 kehabisan
uang,
tak
sanggup lagi membayar kontrakan. Dengan membawa koper isi pakaian,
aku
menggendong anakku, berjalan tanpa tujuan. Aku benar2 bingung akan
kemana.
Pernah terlintas di benakku untuk kembali ke keluargaku. Tapi justru
dengan kondisi seperti ini mereka pasti akan merasa menang. Mereka
akan
tertawa terbahak2 dan terus bisa mengejek ku seumur hidupku, bahwa
aku
gagal dalam memilih jalan hidup. Akhirnya ditengah rasa putus asa,
aku
teringat masjid tempat dulu aku pertama kali mengucapkan kalimat
sahadat.
Masjid itu memang bukan masjid raya dikota kami, tapi karena masjid
yg
tua dan bersejarah, maka banyak jemaah yg datang. Aku berpikir, dulu
aku
memulai jalan hidupku dari masjid itu, sehingga kalaupun jalan
hidupku
berakhir aku ingin di masjid itu pula. Aku datangi masjid tsb. Dan
aku
shalat mohon petunjuk. Anakku karena kelelahan tertidur di sampingku.
Aku tak punya uang untuk membeli makanan. Akhirnya aku hanya bisa
menangis.
Rupanya tangisku didengar oleh seorang bapak, dan beliau rupanya imam
masjid tersebut, dan dia yg dulu membimbingku membaca syahadat. Aku
tak
lupa dengan wajahnya, tetapi dia pasti sudah tak ingat dengan
wajahku,
karena wajahku tak sesegar dulu lagi. Sewaktu aku perkenalkan diriku
dan aku katakan bahwa aku dulu mualaf yg beliau bimbing, dia
langsung ingat
tapi juga kaget dengan kondisiku yg seperti ini.

Akhirnya aku ceritakan semuanya pada beliau, sebab aku merasa tak ada
lagi orang di dunia ini yg aku jadikan sandaran hidupku.

Setelah selesai mendengar ceritaku, dia menyuruh aku agar jangan
pergi
kemana2, dan tetap tinggal di masjid, beliau juga menyuruh salah
seorang jemaah untuk membelikan makanan untuk aku dan anakku.
Sebentar
kemudian
dia pergi meninggalkan ku, sambil berpesan akan segera kembali
menemuiku (rupanya dia pergi mencari tempat untuk aku bisa
tinggali). Tak
lama
beliau kembali menemui ku, sambil tersenyum dia katakan, mulai malam
ini aku sudah memperoleh tempat tinggal. Aku diajak ke belakang
masjid,
disitu ada sebuah bagunan tambahan yg terdiri dari beberapa ruangan.
Biasanya
ruangan itu untuk gudang menyimpan peralatan masjid, seperti tikar,
kursi2, dll. Salah satu ruangnya tampak sudah kosong, dan dia
menunjuk
bahwa itu lah rumah ku. Aku boleh menempatinya selama mungkin aku
mau.
Ruang disebelahnya ditempati olah pak tua penjaga masjid, sehingga
aku
ada yg menemani. Ruangan tsb hanya berukuran kurang lebih 2x2m. Pak
Imam
masjid itu juga menambahkan, kalau nanti aku diberikan honor
sekedarnya, kalau mau membantu2 membersikan masjid, sehingga cukup
untuk
makan.
Bahkan beliau menambahkan kalau aku bisa datang kerumahnya sekedar2
membantu2
istrinya memasak, kerena memang rumah beliau hanya beberapa ratus
meter
dari masjid.

Alhamdulilah, aku amat bersyukur ternyata Allah mendengar doaku. Aku
ingat, bahwa Allah tak akan menguji hambanya dengan melebihi beban yg
sanggup dia pikul. Aku sudah bersyukur bisa memperoleh tempat
berteduh,
walau hanya kamarnya kecil (jauh lebih kecil dibanding kamar mandiku,
saat dirumah orang tuaku). Ada lagi yg membuatku merasa tenang,
karena ku
tinggal berdekatan dengan rumah Allah, tiap aku merasa sedih, aku
tinggal masuk kedalam masjid, dan mengadukan langsung pada Allah.
Karena
tinggal dekat dgn masjid, otomatis shalatku tak terlewatkan
sekalipun.
Alhamdulilah hidupku sedikit2 demi sedikit mulai tenang. Aku sering
membantu istri pak Iman memasak dirumahnya, dan sebagai imbalannya,
beliau selalu membekali makanan untuk aku bawa pulang. Sehingga aku
tak
perlu
risau memikirkan makanan sehari2. Kalau pak Imam sekeluarga ada
keperluan keluar kota, akulah yang dititipi untuk menjaga rumahnya,
dan
aku bisa
tinggal dirumahnya. Sebenarnya mereka sudah menawarkan aku untuk
tinggal
bersama mereka. Tapi aku tahu diri tak mau terus menerus merepotkan
orang
lain.

Pekerjaanku rutinku tiap hari adalah, membersihkan halaman masjid,
membersihkan kaca2 jendela, Sedangkan pak tua mengepel lantai masjid.
Tiap minggu aku mendapakan honor sekedarnya dari hasil kotak amal di
masjid,
tapi kadang aku tak mendapatkan sepeserpun, karena kadang sudah habis
untuk keperluan masjid, tapi aku lakukan itu dengan senang hati dan
iklas.
Sementara ini aku benar2 ingin mengabdi pada Masjid ini, sebagai
tanda
terimakasih ku. Aku tak mau bersusah payah kesana kemari mencari
pekerjaan, Aku percaya kelak masjid ini pula yang akan memberiku
jalan
memperoleh pekerjaan.

Kadang malam hari aku duduk2 diteras masjid, mengobrol dengan pak
tua.
Dia bercerita kalau anak2nya masih ada di kampung, tapi dia juga tak
mau
merepotkan anak2nya. Selama masih kuat, dia tak mau merepotkan orang
lain.
Lalu saat giliran aku cerita, kadang aku bingung harus cerita
apa..???
Apa aku ceritakan kalau dulu aku pernah naik kapal pesiar keliling
eropa,
atau aku pernah menginap di hotel mewah di las vegas, atau aku punya
apartment mewah di Australia..Ahh pasti dia akan tertawa dan
menganggap aku
berhayal, sebab jangankan tinggal dihotel, sekarang ini uang yg aku
punya tak lebih banyak dari 20ribu..

Dulu tiap minggu aku bisa membeli peralatan make up, eye shadow,
lipstick, dll jutaan rupiah. Sekarang ini make up ku hanyalah air
wudhu ku
tiap
aku shalat. Tetapi justru banyak yang mengatakan kalau wajahku tetap
bersih, cantik, alami. Kadang orang berpikir aku masih memakai make
up.
Yah..mungkin Allah yang memakaikan make up untuk ku. Kecantikan
datang
dari dalam. Inner Beauty. Banyak yg bilang, dengan mata sipit ku
dibalik kerudung, aku terlihat cantik.

Tak terasa aku sudah hampir 2 tahun menetap di masjid itu, anakku
sudah
sekolah di SD dekat masjid milik suatu yayasan dan tanpa membayar
sepeserpun. Aku hanya membelikan seragam dan alat2! sekolah.
Bahagianya
hatiku melihat anakku sudah masuk sekolah..oh, seandainya mas Fariz
masih ada dan melihat anak kita dihari pertama pergi ke sekolah..
Anakku
rupanya tumbuh besar dalam keprihatinan, sehingga dia sangat tahu
diri,
dia tak
pernah sekalipun merengek2 minta dibelikan ini itu seperti layaknya
anak2 lain. Pernah hatiku amat terenyuh. Ketika dia pulang sekolah
dengan
kaki telanjang, sambil menenteng2 sepatunya. Sambil tertawa, tanpa
mengeluh,
dia malah menunjukan sepatunya kepadaku "Ma, sepatu Faisal udah minta
makan". Maksudnya sepatunya udah robek depannya, seperti mulut minta
makan. Melihat dia tertawa, akupun ikutan tertawa, walau hatiku
rasanya
ingin menangis. Andai dia tahu, dulu mamanya selalu memakai sepatu
berharga jutaan rupiah, sekarang ini membelikan sepatu anaku yg
murahpun aku belum sanggup. Alhasil selama 2 hari anakku kesekolah
memakai
sepatu yg robek itu, sampai akhirnya aku belikan sepatu bekas. yg
lebih
layak
dipakai. Aku bersyukur mempunyai anak yg amat tahu diri. Tak mau
membebani ibunya. Memang anak yg shaleh akan menjadi bekal yg amat
bernilai buat
orang tua. Pak Imam masjid kadang menengok kami, dan menanyakan
keadaan
kami. Dia sering cerita, gimana istri nabi Muhammad dulu hidupnya
jauh
lebih menderita, tetapi tetap tabah menghadapi cobaan dan tak goyah
keimanannya. Beliau kadang bilang, kalau aku pasti akan jadi ahli
surga.
Berulangkali dia bilang, kalau orang lain gak akan mungkin sanggup
menghadapi cobaan ini, tapi aku tetap bertahan memegang keyakinan,
meninggalkan kenikmatan dunia yg justru pernah aku peroleh.

Suatu siang, aku melihat ada mobil datang ke halaman masjid, dari
dalam
mobil itu keluar 2 orang yg aku masih kenal. Yang satu perempuan
bernama tante Grace, yg satunya lagi laki2 oom Albert. Mereka berdua
merupakan
lawyer untuk perusahaan dan keluarga kami. Entah gimana mereka bisa
mengetahui aku ada disini. Mereka membawa sebundel amplop, dan
mengajak
aku berbicara. Aku bisa lihat mata tante Grace yg memerah menahan air
mata sewaktu dia melihat tempat aku tinggal. Bahkan oom Albert
suaranya
bergetar seperti lehernya tersekat menahan sedih. Mereka katakan
diutus
oleh orang tua kami. Karena orang tua kami sudah tahu gimana keadaan
ku
sekarang. Mereka katakan didalam amplop yg mereka pegang isinya
surat2
bank, ATM, Ijasahku, yg bisa aku miliki lagi. Bahkan aku dijemput
untuk
pulang ke rumah mama papa ku. Sejenak aku berbahagia, aku pikir orang
tuaku sudah terbuka hatinya, aku bisa pergunakan uang yg cukup banyak
itu untuk hidup yg lebih baik dgn anakku. Tetapi dengan suara
terpatah2 om
Albert melanjutkan, bahwa mama dan papa memberi syarat. Ketika aku
tanyakan
apa syaratnya. Mereka berdua nyaris tak sanggup melanjutkan
pembicaraan.
Tante Grace makin menunduk menahan tangis. Akhirnya om Albert
mengatakan
kalau syaratnya aku dan anakku harus kembali ke keyakinan yg dulu
aku anut.
Saat itu juga aku langsung menjawab, kalau aku tak akan mau menerima
amplop
itu, dan aku katakan agar kembalikan ke orang tuaku. Mereka amat
sangat
minta maaf padaku, karena mereka tahu aku tersinggung. Tapi aku juga
sadar mereka hanya menjalankan tugas. Bahkan tante Grace
menambahkan, andai
mengikuti hati nurani pasti mereka udah serahkan itu amplop pada ku
tanpa syarat apapun, tapi mereka terikat profesi mereka.

Akhirnya mereka pamit meninggalkan ku. Tapi beberapa saat kemudian
mereka balik kembali menemui ku, aku pikir mereka akan membujukku.
Tapi
rupanya mereka berinisiatif memfoto copy ijasah2 ku dan menyerahkan
copynya ke
aku. Mereka lakukan atas inisiatif mereka sendiri, walau dengar
resiko
kehilangan pekerjaan. Mereka katakan hanya itu yg bisa mereka bantu
untukku. Oh terima kasih Tuhan... Sedikit2 Tuhan memberikan jalan
untuk
ku.

Akhirnya aku punya bukti kalau dulu aku pernah sekolah tinggi sampai
di
luar negri.

Rupanya Tuhan sudah cukup mengujiku, dan sepertinya aku mulai
diberikan
rewards atas ketabahanku selama ini. Tuhan mulai memberikan jalan yg
terang untuk ku.

Suatu pagi di halaman masjid tampak 2 orang perempuan yg sedang
mengamati bangunan masjid. Satunya seorang bule entah dari negri
mana,
sedangkan
satunya lagi perempuan lokal.

Kebetulan pak tua sedang di halaman, sehingga mereka menghampirinya,
masjid tsb memang unik, karena merupakan bangunan tua, dengan
arsitektur melayu kuno, sehingga kadang sering dikunjungi orang, dan
biasanya pak
tua lah yg menjadi juru bicara, karena memang dia yg tahu sejarah
masjid
tsb.
Akupun banyak mendapat carita dari pak tua tentang masjid tsb
sehingga
aku tahu banyak pula tentang sejarah masjid tsb.

Aku hanya perhatikan dari jauh, dua orang pengunjung itu ngobrol
dengan
pak tua, sampai akhirnya aku lihat si bule agak kebingungan. Didorong
rasa ingin tahu, aku hampiri mereka. Dengan sopan aku perkenalkan
diri, dan
menawarkan diri untuk membantu. Ternyata si bule itu adalah mahasiswi
arsitektur dari Australia yg sedang melakukan study, sedangkan
pendampingnya adalah mahasiswi arsitektur dari univ. T di kotaku yg
bertugas sebagai penterjemah, panggil saja 'Retno'. Rupanya si
mahasiswi lokal tsb kurang lancar bahasa Inggrisnya sehingga membuat
si
bule
kadang kebingungan mendengar terjemahan cerita dari pak tua. Dengan
sopan
pula
aku ajukan diri untuk membantu sibule itu. Dengan bahasa inggrisku yg
sangat lancar aku ceritakan dari awal sampai akhir semua tentang
masjid
tsb. Aku ajak pula berkeliling ke tiap sudut masjid. Si bule tambah
takjub ketika aku katakan pernah study di negrinya. Retno terus
memandangiku
setengah tidak percaya tentang diriku. Setelah puas mendapatkan
informasi, sebelum pulang Retno berjanji akan menemui ku kembali
segera,
ada yg
ingin dia tanyakan lebih banyak ttg diriku katanya. Aku dengan
senang hati
akan menerima kedatangannya kapan saja.

Beberapa hari kemudian Retno memang benar2 kembali datang menemuiku,
kali ini dia sama sekali tidak membicarakan perihal arsitektur
masjid. Tapi
tentang diriku. Dia amat ingin tahu tentang diriku, akhirnya aku
ceritakan dari awal sampai saat ini perjalanan hidupku ini. Dia amat
bersimpati
dan berkeinginan menolong ku. Walau aku tidak mengharapkan pertolong
orang
lain, tapi aku hargai niatnya membantuku. Dia bilang dengan
pendidikan
ku dan kemahiranku berbahasa asing, pasti aku akan dapatkan
pekerjaan,
apalagi aku sekarang sudah mempunyai bukti fotocopy ijasah ku. Kira2
seminggu kemudian dia kembali datang kepadaku, dan menyuruhku membuat
surat lamaran, bahkan dia sendiri yg membawa kertasnya dan amplopnya.
Dia katakan di rektorat univ memerlukan beberapa tenaga honorer. Aku
terharu ada orang lain yg peduli mau membatuku tanpa pamrih, aku
ucapkan
banyak
terimakasih padanya. Bagiku dia seperti diutus Tuhan untuk
menolongku.
Tak lama kemudian aku mendapat kabar gambira, aku dipanggil
menghadap ke
rektorat universitasnya untuk test dan wawancara. Sebelum berangkat
aku
shalat memohon kapada Allah agar diberikan kelancaran. Anakku aku
titipkan pak tua, yg memang sudah aku anggap sebagai orang tuaku
sendiri.

Alhamdulilah semua test aku lalui dengan lancar, bahkan sewaktu
wawancara bahasa Inggris, justru akulah yg lebih menguasai ketimbang
yg
mewawancaraiku. Dia sampai menyerah, dan mengatakan bhs inggrisku
udah
perfect melebihi kemampuan dia.

Tak sampai seminggu kemudian, Retno mendatangiku lagi, kali ini dia
tampak gembira sekali, dia katakan dalam beberapa hari aku akan
mendapat
surat
dari rektorat, yg isinya penerimaan aku sebagai karyawan. Dia bisa
lebih dulu tahu karena ada temannya yg bekerja disana. Langsung aku
menuju
masjid dan bersujud sukur lama sekali. Aku merasa telah lulus segala
test yg diujikan Allah terhadapku. Memang kadangkala aku sering
bertanya
pada Allah, apakah karena aku mualaf sehingga Allah kurang percaya
dengan
keimananku, sehingga perlu mengujinya dengan ujian yg amat berat.

Walau sebagai karyawan honorer tapi aku sudah bersukur, yg penting
aku
sudah memperoleh penghasilan yg layak. Kerjaanku membantu bagian
keuangan di rektorat, memang sesuai dengan ilmuku, tetapi mulai
banyak
orang yg
tahu kalau aku lulusan dari luar negri. Setiap ada seminar dan
memerlukan makalah dalam bahasa Inggris pasti aku yg diberikan tugas
tambahan
untuk menyusunnya. Akupun banyak membantu menterjemahkan litelatur2
asing
untuk dipergunakan para mahasiswa. Nyaris sejak 3 tahun terakhir,
aku tidak
pernah membeli baju baru. Dengan gajiku sekarang aku sudah bisa
membeli
lagi. Aku amat sangat senang bukan main, bisa membelikan pakaian yang
bagus2 untuk anakku. Bahagia rasanya melihat anakku bisa aku berikan
pakain yg layak. Pakaian sekolahnya yg sudah menguning, sekarang
sudah
aku belikan yg baru putih bersih, dan juga sepatu baru. Sepatunya yg
dulu
robek, masih aku simpan sebagai kenangan.

Beberapa bulan kemudian aku sudah mampu mengontrak rumah sendiri,
sebelum aku meninggalkan masjid tsb tak lupa aku berpamitan kerumah
pak
Imam,
aku ucapkan banyak terimakasih atas pertolongannya, beliau katakan yg
menolong bukan dia tetapi Allah SWT yg menolongku. Aku peluk dia lama
sekali,
dan aku katakan dahulu aku mengucapkan syahadat didepan dia, dan aku
tak
akan pernah mengingkarinya seumur hidupku, apapun yg terjadi. Sebelum
pergi,
aku sempat memandangi kamarku untuk terakhir kali, sempat beberapa
menit aku tertegun, membayangkan, mungkin kelak ruangan ini akan
dipakai
oleh
orang2 yg senasib seperti aku.....Aku berharap Semoga Allah memberi
kekuatan....

Setelah aku melewati segala cobaan, Tuhan tampaknya terus menerus
memberikan semacam rewards kepadaku, belum genap setahun aku bekerja,
pihak rektorat meberikan kabar, kalau statusku akan di tingkatkan
menjadi ! karyawan tetap, bahkan beberapa dosen senior sudah
menawariku
untuk
membantu mengajar. Memang rekan2 kerjaku mengatakan, kalau karirku
bakal amat bagus, karena orang dengan kemampuan sepertiku amat
dibutuhkan.
Mereka bilang, kesuksesanku hanya menunggu waktu saja. Aku hanya bisa
mengucap puji syukur Alhamdulilah. Andai dulu aku sering berdoa
dengan
linangan air mata kesedihan, sekarangpun aku masih sering menangis
ketika berdoa, tapi kali ini aku menangis bahagia.

Sampai saat ini aku masih sendirian, aku bertekad membesarkan anakku
sebaik2nya, bagiku aku masih merasa istri dari mas Fariz. Masih sulit
rasanya menggantikan dia dihatiku. Seperti yg aku pernah katakan, dia
bukan hanya suami, tetapi soulmate ku, dan tak tergantikan. Tetapi
entah kalau Allah mempunyai rencana lain untukku. Tiap memandang
anakku,
aku
seperti melihat mas Fariz. Seperti dia masih mendampingiku.

Alhamdulilah dengan penghasilanku sekarang ini aku kini bahkan sudah
mampu membeli sepeda motor untuk keperluan transportasiku. Kadang
diakhir
pekan aku berboncengan dengan anakku jalan2 rekreasi. Kadangkala aku
sengaja
lewat depan rumah orang tuaku, sambil aku katakan bahwa itulah rumah
opa dan oma. Sering anakku bertanya, "Ma kapan kita pergi main
kerumah
oma-opa? " Aku tak bisa menjawab, karena menahan air mata...

Walaupun begitu aku terus berdoa, semoga suatu saat kelak, kedua
orangtuaku dibukakan pintu hatinya, kalaupun tidak mau menerima aku
lagi, mohon terima anakku, cucunya, darah daging mereka sendiri.

Wassalam,
Mawar
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
gZ
Jyuunidaime Mizukage
Jyuunidaime Mizukage


Posting : 759
Join date : 18.08.12
Age : 21
Lokasi : Kedirigakure

#31PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 10/9/2012, 4:48 am

Ceritanya mengharukan semua

Jadi terharu... hohoho
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
ninjaring
Akatsuki Cincin Rei
Akatsuki Cincin Rei
avatar


Posting : 792
Join date : 16.11.11
Age : 26
Lokasi : magelang

#32PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 13/9/2012, 8:30 am

KISAH SANG PROFESOR & SI NELAYAN

Suatu hari bertemulah dua orang sahabat lama di kampung pesisir sebuah
pantai. Keduanya dulu sahabat dibangku SD dan SMP. Atas perjalanan
sang waktu dan kesempatan maka selepas dari SMP maka mereka menjalani
kehidupan masing-masing, yang satu pergi merantau ke kota untuk
meneruskan jenjang pendidikannya hingga menjadi Professor dan satunya
tetap tinggal di kampung nelayan menjalani kehidupan menjadi nelayan
sejati.

Rentang waktu beberapa puluh tahun maka suatu hari Sang Professor
pulang kampung mengunjungi sanak-saudara dan keluarga beserta
teman-teman lamanya.

Bertemulah kedua sahabat itu dan kemudian saling melepas kangen.
Sebagai bentuk reuni mereka maka teman yang berprofesi sebagai nelayan
mengajak temannya yakni Sang Professor untuk naik perahu kecil
memancing ikan ke tengah lautan.

Dalam perjalanan ke tengah laut terjadilah dialog yang menarik antara
dua kawan lama ini.

"Apa kamu bisa bebahasa inggris?", tanya sang professor kepada si nelayan.

"Wah, terus terang saja saya tidak sempat belajar bahasa Inggris
karena aku hanya belajar sampai SMP dan kemudian menjadi nelayan
setiap pagi & sore." jawab si nelayan dengan ringan dan sedikit malu-malu.

"Rugi sekali kamu tidak bisa bahasa Inggris, dengan bahasa Inggris
kamu bisa mempelajari aneka ilmu, berkeliling dunia, merantau dan bisa
menjadikan kamu kaya raya. Sebaliknya jika kamu tidak bisa bahasa
Inggris berarti kamu sudah kehilangan 50% hidupmu", saut sang
professor dengan nada yang mulai menampakkan keunggulan & kesombongannya.

Kemudian professor bertanya lagi, "Kalau ilmu matematika kamu bisa
tidak?".

Dengan malu yang makin besar, maka suara lirih sang nelayan menjawab
parau, "Apalagi ilmu matematika, kamu tentu tahu sendiri lah dengan
bekal aku cuma lulusan SMP pasti tidak tahu banyak tentang Matematika".

Jawaban si nelayan menjadikan sang professor makin besar kepala dan
merasa lebih dari sahabat lamanya.

Tiba ditengah laut tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung, dan ombak
hujan bercampur angin lebat menerpa perahu kecil kedua sahabat tersebut.

Melihat kondisi ini sang professor menjadi sangat ketakutan dan
memegang erat-erat tepian perahu.

"Tenang saja kawan, ombak ini insya allah tidak akan membinasakan
kita. Ini biasa terjadi kalau cuaca seperti ini", celetuk si nelayan
memberikan penerangan kepada sang professor.

"Kita tidak usah takut. Jika ombak menghempaskan perahu ini maka kita
tinggal berenang beberapa ratus meter dari sini, maka kita akan sampai
ke daratan pantai", tambah si nelayan.

Mendengar ucapan itu maka makin takutlah sang professor dan mendekap
erat si nelayan.

Sang professor kemudian berkata, "Justru karena saya tidak bisa
berenang maka saya takut jika perahu ini terbalik dan ombak
menghempasakan kita di tengah laut", berkata dengan penuh ketakutan.

"Wah percuma kamu jika jadi professor tidak bisa berenang, kalau tidak
bisa bahasa Inggris & Matematika tadi kamu katakan akan kehilangan 50%
hidupmu, tapi jika saat ini kamu tidak bisa berenang maka kamu akan
kehilangan 100% hidupmu".

Kesimpulan

Itulah sebuah dialog yang bisa memberikan kita pelajaran bahwa:
1.Jika kita mempunyai kelebihan maka kita tidak boleh mencela &
menghina kekurangan orang lain karena bisa jadi kita banyak kelebihan
disisi yang lain tapi banyak juga kekurangan disisi yang lainnya.
2.Hiduplah saling mengisi agar kehidupan ini menjadi saling melengkapi
dan semakin indah.

(Terinspirasi dari sebuah cerita Manajemen Motivasi sebuah radio di
Tangerang, saat bencana banjir JABODETABEK) .
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
arbie_uchiha
Mizu no Daimyou
Mizu no Daimyou
avatar


Posting : 668
Join date : 18.09.11
Age : 27
Lokasi : kombangan,gakure

#33PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 13/9/2012, 8:54 am

wah banyak hikmah dari cerita di atas..
bisa buat pegangan hidup nih...

lanjutkan kk jaring,semangkok ramen buat semangat paginya
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
ninjaring
Akatsuki Cincin Rei
Akatsuki Cincin Rei
avatar


Posting : 792
Join date : 16.11.11
Age : 26
Lokasi : magelang

#34PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 13/9/2012, 9:14 am

Ungkapan Jujur Seorang Anak



Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak

sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya

memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya

menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas

unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru

tercatat sebagai anak yang bermasalah.



Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru

menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung

dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun.

Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada



Dika:

"Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.

"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.

"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.



Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk

mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya

kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.



Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk

menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal



dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja



namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.



Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana

skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu

pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160.

Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih



dari 115 (Rata-Rata Cerdas).



Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang

menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu

psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke

tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.



Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti

serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang

dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang

menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan

verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.



Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca



diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.



Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."

Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja"

Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya

kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya

berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya

merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain

puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita,

kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir

bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati

permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang

tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan

mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan

jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika

hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa

kanak-kanaknya.



Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..."



Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya

"Aku

ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu"



Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau

diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia

hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang



diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian

membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani

orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis

dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti

itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.



Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."

Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya"



Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja

keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu

merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin

menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya

seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan

beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.



Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."

Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak

mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"



Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan

bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk

berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah

dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk

berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan

jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa

yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami

lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada

kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian

iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan

tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di

waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....."

Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja".



Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang

sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut

saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya.

Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang

penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya

dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan

pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya

dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....",



Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang

kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling

hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya



dan meminta maaf kepadaku".

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia,

orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana,

yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu

meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua

kepadanya.



Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....."

Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin



ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku"



Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah

tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah,

pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya

hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa

perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh

anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.



Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ...."

Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata

"tersenyum"

Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan

senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman

tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi

justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan

segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.



Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku

memanggilku...."

Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus"

Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang

paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang,

tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam

Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.



Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku

memanggilku .."

Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".

Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena

sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan

logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena



selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan

hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan

hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak

ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an

Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati



Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".



Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah

memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah

anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang

jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua

ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau

marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati

ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di

dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam

ajaran dan nasehat yang baik.



Ditulis oleh: Lesminingtyas
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Uzumaki Fukuoka
Koplakers from FAN
Koplakers from FAN


Posting : 2468
Join date : 12.12.11
Age : 19
Lokasi : konohagakure

#35PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 17/9/2012, 10:17 pm

yah ane sring kayak dika... menyembunyikan hal2 kayak gtu T.T...

Dan ceritanya menyentuh bgt...
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
no name
Kelas S
Kelas S
avatar


Posting : 1010
Join date : 22.03.12

#36PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 22/9/2012, 11:15 am

Semangkok ramen untukmu bang ninjaring. memang benar hal-hal yang kita lihat remeh dari seorang anak merupakan hal yang sangat penting bagi seorang anak.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://sainsmatika.blogspot.com
ninjaring
Akatsuki Cincin Rei
Akatsuki Cincin Rei
avatar


Posting : 792
Join date : 16.11.11
Age : 26
Lokasi : magelang

#37PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 26/9/2012, 4:16 pm

saya coba update dengan berita lama yang sebenernya sudah banyak tersebar di blog2 di Indonesia...
tentang SOICHIRO HONDA,yah secara saya dulu kerja di PT Astra Honda Motor,jadi kosah ini cukup familiar,daripada sebagai kisah pembangun jiwa.mungkin lebih cocok sebagai kisah inspiratif motivasi....




SOICHIRO HONDA


Amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada kendaraan bermerek Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merek kendaran ini memang selalu menyesaki padatnya lalu lintas. Karena itu barangkali memang layak disebut sebagai raja jalanan.

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri kerajaan bisnis Honda – Soichiro Honda -- selalu diliputi kegagalan saat menjalani kehidupannya sejak kecil hingga berbuah lahirnya imperium bisnis mendunia itu. Dia bahkan tidak pernah bisa menyandang gelar insinyur. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.

Saat merintis bisnisnya, Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun, ia terus bermimpi dan bermimpi. Dan, impian itu akhirnya terjelma dengan bekal ketekunan dan kerja keras. ''Nilaiku
!!!*kata ini disensor oleh Admin*!!! di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya di sekitar mesin, motor dan sepeda,'' tutur Soichiro, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengidap lever.

Kecintaannya kepada mesin, jelas diwarisi dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah. Di kawasan inilah dia lahir. Kala sering bermain di bengkel, ayahnya selalu memberi catut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906 ini dapat berdiam diri berjam-jam. Tak seperti kawan sebayanya kala itu yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain penuh suka cita. Dia memang menunjukan keunikan sejak awal.
Seperti misalnya kegiatan nekad yang dipilihnya pada usia 8 tahun, dengan bersepeda sejauh 10 mil. Itu dilakukan hanya karena ingin menyaksikan pesawat terbang.

Bersepada memang menjadi salah satu hobinya kala kanak-kanak. Dan buahnya, ketika 12 tahun, Soichiro Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Sampai saat itu, di benaknya belum muncul impian menjadi usahawan otomotif. Karena dia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak
tampan, sehingga membuatnya selalu rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke kota, untuk bekerja di Hart Shokai Company. Bossnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari
perhatiannya. Enam tahun bekerja di situ, menambah wawasannya tentang
permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, Saka Kibara mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya kian membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya tak jarang hingga larut malam, dan terkadang sampai subuh. Yang menarik, walau terus kerja lembur otak jeniusnya tetap
kreatif.

Kejeniusannya membuahkan fenomena. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik untuk kepentingan meredam goncangan. Menyadari ini, Soichiro punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luar biasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia.

Pada usia 30 tahun, Honda menandatangani patennya yang pertama. Setelah menciptakan ruji. Lalu Honda pun ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Mulai saat itu dia berpikir, spesialis apa yang dipilih ? Otaknya tertuju kepada pembuatan ring piston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada
1938. Lalu, ditawarkannya karya itu ke sejumlah pabrikan otomotif. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring Piston buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu dan menyesalkan dirinya keluar dari bengkel milik Saka Kibara. Akibat kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal ring pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin.

Siang hari, setelah pulang kuliah, dia langsung ke bengkel mempraktekkan pengetahuan yang baru diperoleh. Tetapi, setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah. ''Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang
hukum makanan dan pengaruhnya,'' ujar Honda, yang diusia mudanya gandrung balap mobil. Kepada rektornya, ia jelaskan kuliahnya bukan mencari ijazah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan. Tapi dikeluarkan dari perguruan tinggi bukan akhir segalanya. Berkat kerja kerasnya, desain ring pinston-nya diterima
pihak Toyota yang langsung memberikan kontrak. Ini membawa Honda berniat mendirikan pabrik. Impiannya untuk mendirikan pabrik mesinpun serasa kian dekat di pelupuk mata.

Tetapi malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana kepada masyarakat. Bukan Honda kalau menghadapi kegagalan lalu menyerah pasrah. Dia lalu nekad mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Namun lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar, bahkan hingga dua kali kejadian itu menimpanya.

Honda tidak pernah patah semangat. Dia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, untuk digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Penderitaan sepertinya belum akan selesai. Tanpadiduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga
diputuskan menjual pabrik ring pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

Akhirnya, tahun 1947, setelah perang, Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya akibat krisis moneter itu. Padahal dia ingin menjual mobil itu untuk membeli makanan bagi keluarganya.

Dalam keadaan terdesak, ia lalu kembali bermain-main dengan sepeda pancalnya. Karena memang nafasnya selalu berbau rekayasa mesin, dia pun memasang motor kecil pada sepeda itu. Siapa sangka,sepeda motor-- cikal bakal lahirnya mobil Honda -- itu diminati oleh para tetangga. Jadilah dia memproduksi sepeda bermotor itu. Para tetangga dan kerabatnya berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Lalu Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejakitu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobilnya, menjadi raja jalanan dunia, termasuk Indonesia.

Semasa hidup Honda selalu menyatakan, jangan dulu melihat keberhasilanya dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. ''ORANG MELIHAT KESUKSESAN SAYA
HANYA SATU PERSEN. TAPI, MEREKA TIDAK MELIHAT 99 PERSEN KEGAGALAN
SAYA,'' tuturnya. Ia memberikan petuah, ''KETIKA ANDA MENGALAMI
KEGAGALAN, MAKA SEGERALAH MULAI KEMBALI BERMIMPI. DAN MIMPIKANLAH
MIMPI BARU.''
Jelas kisah Honda ini merupakan contoh, bahwa sukses itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, dan hanya berasal dari keluarga miskin.
:kkskawarimi:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Uzumaki D. Ryef
Monster Supernova from FAN
Monster Supernova from FAN
avatar


Posting : 687
Join date : 01.09.12

#38PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 10/11/2012, 10:29 pm

mantap bgt ceritanya bg..
iktan nagis gw baca cerita pudarnya pesona cleopatra
ada lagi g bg..
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
sima N.H
Jounin Elite
Jounin Elite
avatar


Posting : 310
Join date : 05.07.12
Age : 19
Lokasi : Di BAWAH Jembatan

#39PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 24/11/2012, 7:12 pm

cerita dari SOICHIRO HONDA,bagus
akan qu ambil hikmahnya,
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
DX-Yoew
Guru Jounin Konoha
Guru Jounin Konoha
avatar


Posting : 179
Join date : 28.01.13
Age : 20
Lokasi : Maskuning Kulon, Pujer, Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia

#40PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa 13/2/2013, 5:25 pm

Terharu ane baca cerita yang pertama Fiuuuuh :'(
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Sponsored content




#41PostSubyek: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa

Kembali Ke Atas Go down
Subject: Re: Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa  None

Anda tidak dapat mengirmkan postingan atau mengomentari pembahasan di topik ini karena masih berstatus sebagai Tamu.
Silakan Mendaftar dan Login agar dapat mengakses segala fitur forum secara penuh.
AgoessNaruto Robot
Forum Bot



Join Date: 16/05/2009
Lokasi: Forum AgoessNaruto
Comments: Bot untuk membantu anda di Forum AgoessNaruto
Kembali Ke Atas Go down
 

Kumpulan Kisah Pembangun Jiwa

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 2 dari 2Pilih halaman : Previous  1, 2

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Forum Indofanster :: Forum Bebas :: Pojok Inspirasi-